Mukhlisuddin : Terorisme itu Fakta, Bukan Rekayasa!


Banda Aceh – Pelaku Terorisme tidak Mengenal Agama atau dengan kata lain Agama bukan sumber dari sebab dari terjadinya Tindakan radikalisme dan Terorisme. Karena Menurutnya semua Agama mengajarkan tentang Kebaikan atau prinsip-prinsip Kemaslahatan. Kata Dr. Mukhlisuddin Ilyas, M. Pd, Kabid Pengkajian dan Penelitian FKPT Aceh pada saat mengisi acara Diskusi Virtual, Workshop dan Lomba Video Pendek Kreatif Indonesia Tangguh, (27/7/2012).

Aktor radikalisme dan terorisme dapat bersumber dari latar belakang berbeda agama. Agama menjadi sebagai sarana objek penyalahgunaan dalam melakukan aksi Radikalisme dan Terorisme. Jadi boleh dikatakan agama merupakan Latar Belakang saja dan menjadikan Agama sebagai Sebab terjadi nya aksi Terorisme.

Bahwa Terorisme ini Fakta, bukan rekayasa. Ada pelakunya, ada korbannya dan juga ada kerusakan yang ditimbulkan, sambung Mukhlis.

Berbicara Radikalisme, Pelajar menjadi rentan untuk terpaparnya paham radikalisme. Anak SD dan SMP sekalipun dengan eksklusifitas aktifitasnya di dunia Medsos, bisa terpapar Paham Radikalisme. Bahkan hasil riset menyebutkan ada 600 (enam ratus) Anak pelajar tingkat SD dan SMP di Bandung yang sudah terpapar paham Radikalisme.

Faktanya, keterlibatannya anak juga ada di dunia Terorisme, pelaku Terorisme juga mengunakan Media Sosial sebagai alat sebagai media perekrutan maupun penyebaran paham-paham radikalisme dan Terorisme. Bahkan aktor Terorisme menyasar kaum pemuda dan Perempuan di Media Sosial, hal ini dipengaruhi oleh tren pengguna Medsos dari kaula pemuda dan Perempuan yang cukup tinggi. Sebagai tambahan, di Indonesia sendiri berdasarkan Riset Thaun 2019, ada 3 (tiga) Provinsi yang masuk kategori tingkat daya komsumsi hoax tertinggi melalui media sosial, diantaranya Jawa Barat, Banten dan Aceh. Tutur Mukhlis!

Dok. Istimewa

Mengenai Agama dijadikan sebagai objek penyebaran paham radikalisme dan Terorisme. Saya mengutip statement dari Prof Yusny Saby yang juga seorang Guru Besar dan Mantan Ketua FKPT Aceh, beliau mengatakan bahwa “Agama paling sering dibajak untuk aksi Radikalisme, karena agama paling mudah digunakan sebagai alat berbagai kepentingan!

Awalnya menjadi Teroris dimulai dari Sikap Intoleran menuju Radikalisme kemudian Terorisme. Berbagi Pengalaman historis dari teman saya yang merupakan alumni Pelatihan Teroris di Pengunugan Jalin Jantho, dimana kawan saya ini awalnya seorang PNS Aktif lulusan STPDN, dia ini merupakan desainer pelatihan militer tersebut. Awal mula dia mulai masuk kedalam jaringan teroris dimulai dari sikap Intoleransi kepada lingkungan sekitar, bahkan untuk kegiatan Takziah terhadap keluarganya sendiri dia sudah bersikap Intoleran. Bermula dari bekal sikap Intoleran kemudian berlanjut ke arah radikalisme dan terorisme.

Di Aceh sendiri, untuk skala Ancaman Generasi Aceh di mulai dari Konflik Horizontal, Narkoba, Pornografi dan Radikalisme. Sedangkan hasil riset BNPT Tahun 2017 menyebutkan potensi Radikalisme di Aceh dimulai dari tingkatan sedang menuju tinggi. Terang Mukhlis yang kesehariannya seorang Peneliti dan juga Akademisi!

Menurutnya, Daya Tangkal Radikalisme saat ini adalah dengan memperkuat aktifitas Sosial Kemasyarakatan melalui Basis Kearifan Lokal. Kemudian yang menjadi Alat Cegah untuk Pencegahan Radikalisme dan Terorisme adalah Pendidikan. Kenapa Pendidikan Menjadi Tolok Ukur, karena berhubungan langsung dengan kapasitas pengajar atau pendidik yang tersertifikasi, mulai dari Guru Sekolah yang berkompenten, Guru Agama, Ustad, Tgk yang telah diakui oleh Ulama, MUI maupun MPU serta dapat mengajarkan Agama secara Benar.

Dalam berselancar di dunia Medsos sekaipun, Informasi yang kita peroleh tidak semata-mata harus kita benarkan, namun kita proteksi terlebih dahulu dari isi informasi yang telah kita terima.

Terorisme dan Radikalisme bukanlah fiktif, ilusi maupun rekayasa, tetapi ini merupakan Fakta, pesan saya kepada adik-adik Pelajar di Aceh maupun di Provinsi Lainnya, belajarlah Agama mulai sejak sekarang, baik itu di Dayah, Pesantren atau ditempat Pengajian yang benar-benar guru agamanya sudah diakui kapasitasnya serta benar-benar mengajarkan agama dengan baik. Pesan Mukhlis di Akhir penyampaiannya!

Kegiatan Diskusi Virtual, Workshop dan Lomba Video Pendek Kreatif Indonesia Tangguh secara khusus mengusung Tema “ Pelibatan Pelajar SMA Sederajat dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme Melalui FKPT Aceh” yang terselenggara berkat kerjasama BNPT dan FKPT Aceh. Hadir sebagai Narasumber Letkol Harianto, S. Pd, M. Pd selaku Kasubdit Kerjasama Asia Pasifik dan Afrika BNPT, Dyah Kusumawati, S. Sos., M.I.Kom selaku Akademisi dan Praktisi Film serta Dr. Mukhlisuddin Ilyas, M. Pd, Kabid Pengkajian dan Penelitian FKPT Aceh, Sedangkan Dr. Kamaruzzaman Bustaman Ahmad, MA selaku Ketua FKPT Aceh juga hadir dan ikut membuka kegiatan virtual tersebut dengan peserta dari SMA Sederajat di Aceh maupun di Jakarta. MD