Sejarah Hari Ini: Aktor Pantomim Charlie Chaplin Wafat


JAKARTA, kitanews.id – Hari ini 43 tahun yang lalu, tepatnya pada 25 Desember 1977, aktor dan sutradara komedi Inggris, Charlie Chaplin, meninggal dunia di Corsier-sur-Vevey, Swiss.

Melansir Biography, Chaplin adalah seorang aktor kenamaan di era film bisu, masa ketika film diputar dan disaksikan tanpa suara. Film itu hanya menampilkan gerak aktornya. Chaplin terkenal dalam perannya di film The Tramp (1915). Ketika itu, ia memerankan seorang pria yang mengenakan topi bowler, kumis tebal, dan membawa sebuah tongkat. Selain penampilan karakternya di film The Tramp yang masih diingat hingga sekarang, Chaplin juga mengandalkan pantomim dan gerakan nyentrik untuk menjadi sosok ikonik di era film bisu.

Chaplin lahir dengan nama lengkap Charles Spencer Chaplin, pada 16 April 1889 di London, Inggris. Masa kecilnya tidak dilalui dengan mudah, sebab ia berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Ayahnya, seorang pemabuk berat, meninggalkan Chaplin, ibu dan kakak tirinya, Sydney. Tidak lama setelah kelahiran Chaplin.

Hal itu membuat Chaplin dan saudaranya hanya diasuh oleh ibu mereka, seorang vaudevillian dan penyanyi yang menggunakan nama panggung Lily Harley. Ibu Chaplin, yang kemudian menderita masalah mental yang parah dan harus dirawat ke rumah sakit jiwa, mampu menghidupi keluarganya selama beberapa tahun. Namun dalam sebuah pertunjukan, Lily tiba-tiba kehilangan suaranya di tengah pertunjukan. Dia kemudian meminta manajer produksi untuk menyuruh Chaplin yang saat itu berusia lima tahun, naik ke atas panggung dan menggantikannya menyanyi.

Tidak disangka, penampilan dadakan itu menjadi debut Chaplin di panggung hiburan. Dia memukau para penonton dengan penampilannya yang natural dan komedi yang khas.

Meski demikian, acara tersebut ternyata menjadi akhir karier Lily sebagai penyanyi. Sebab, suaranya tidak pernah kembali. Lily pun akhirnya kehabisan uang. Selanjutnya, Chaplin dan Sydney harus bekerja keras di London untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Kejayaan Belanda Awal karier Didorong oleh kecintaan ibunya pada panggung pertunjukan, Chaplin bertekad untuk sukses dalam industri yang sama. Pada 1897, berkat kenalan ibunya, dia bergabung dengan rombongan penari bernama Eight Lancashire Lads. Dalam kelompok itu, ia harus memainkan peran yang berbeda-beda.

“Saya (pernah) menjadi pembawa berita, pembuat mainan, dokter anak, dan peran-peran lainnya. Namun, saya tidak pernah kehilangan tujuan akhir saya untuk menjadi seorang aktor,” kata Chaplin. “Jadi, di sela-sela pekerjaan, saya akan menyemir sepatu, menyikat pakaian, mengenakan kerah yang bersih, dan menghubungi agensi teater secara berkala,” imbuhnya. Akhirnya, dia berhasil mendapat peran untuk sebuah produksi pertunjukan.

Chaplin melakukan debut aktingnya sebagai pageboy dalam produksi Sherlock Holmes. Dari sana, dia melakukan tur dengan Casey’s Court Circus dan pada tahun 1908 bekerja sama dengan rombongan pantomim Fred Karno. Chaplin menjadi salah satu bintang rombongan pantomim itu, dengan berperan sebagai The Drunk dalam sketsa komedi A Night in an English Music Hall. Bersama rombongan Karno, Chaplin mendapatkan pengalaman pertamanya di Amerika Serikat.

Dia kemudian menarik perhatian produser film Mack Sennett, yang memberikan kontrak senilai 150 dollar AS per minggu kepada Chaplin. Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Charlie Chaplin, Pelawak Legendaris Era Film Bisu.

Kelahiran karakter ikonik Chaplin Melansir Britannica, debut Chaplin bersama Sennet tidak langsung menuai kesuksesan. Film pertama yang ia bintangi berjudul Making a Living (1914). Dalam film itu, karakter yang ia perankan tidak berhasil menggali potensi aktingnya. Sennet kemudian memintanya untuk menciptakan karakter yang lebih cocok untuknya. Chaplin lantas berimprovisasi dengan pakaian yang ia kenakan, terdiri dari mantel terlalu kecil, celana terlalu besar, dan sepatu floppy. Sebagai sentuhan akhir, dia menempelkan kumis yang mirip perangko dan membawa tongkat sebagai aksesoris tambahan Dalam film keduanya, Kid Auto Races at Venice (1914), lahirlah alter ego Chaplin di layar sinema, The Little Tramp, yang berarti gelandangan kecil. D

aya tarik film Tramp bersifat universal, penonton menyukai ketampanannya, keberaniannya yang tidak terduga, dan ketangguhannya dalam menghadapi kesulitan. Hanya dalam beberapa bulan setelah debut filmnya, Chaplin menjadi bintang film terkenal.

Menjelang akhir hidupnya, Chaplin melakukan kunjungan terakhirnya ke Amerika Serikat pada tahun 1972. Ia saat itu dianugerahi penghargaan Academy Award. Chaplin tidak hanya berperan dan menyutradarai film bisu saja. Ketika teknologi suara mulai diaplikasikan di film, ia membuat film musikal City Light (1931) yang meraih kesuksesan besar. Film terakhir Chaplin, A Countess from Hong Kong (1967), adalah film berwarna pertama dan satu-satunya yang pernah dibuatnya.

Pada dini hari tanggal 25 Desember 1977, Chaplin meninggal di rumahnya di Corsier-sur-Vevey, Vaud, Swiss. Istrinya, Oona, dan tujuh anaknya berada di samping tempat tidurnya pada saat ia meninggal. Ironisnya, tidak lama setelah ia dimakamkan di dekat Danau Jenewa di Swiss, jasad Chaplin dicuri dua orang yang meminta tebusan 400.000 dollar AS. Para pencuri itu kemudian berhasil ditangkap dan jasad Chaplin akhirnya dikembalikan setelah 11 minggu dicuri.[KOMPAS.com]

Charlie Chaplin’s