Cerutu Gayo Tembus Pasar Nasional


Banda Aceh – Berawal dari hobi meneliti sifat tanah dan tanaman yang cocok ditanam di daerah ketinggian, Salmi kini menjadi ahli dalam membuat cerutu Gayo.

Saat meneliti, Salmi menemukan potensi lain dari kondisi topogfari Aceh Tengah. Selain kopi, tembakau bisa tumbuh subur di dataran tinggi Propinsi Aceh itu.

Menurut Salmi, letak Aceh Tengah yang berada di ketinggian 1.000 sampai 2.000 meter di atas permukaan laut memiliki kontur sifat tanah yang berbeda dengan wilayah lain. Akibatnya, tembakau yang tumbuh subur akan menghasilkan aroma yang berbeda.

“Ada 10 jenis tembakau Aceh terdiri dari 42 aroma tembakau yang tidak dimiliki di tempat lain,” sebutnya, Kamis (12/11/2020) lalu.

Di Aceh Tengah, rata-rata mata pencaharian penduduk ada di sektor pertanian. Ada 70% petani kopi, 10% petani tembakau dan 20% lagi petani lainnya.

Salmi mengaku sedih melihat petani tembakau karena hanya mengenal satu komoditi yaitu tembakau iris yang harganya sangat murah.

Kemudian, Salmi berpikir untuk menghasilkan produk lain selain tembakau iris sehingga petani tersebut bisa tertolong.

Pada tahun 2018, Salmi mencoba mengubah polanya dan berinovasi membuat cerutu dengan berbagai proses hingga berhasil. Produknya ia namai Gayo Mountain Cigar (GMC).

Cerutu olahan Salmi dibuat sendiri di rumahnya, bersebelahan dengan tempat usaha bidang kopi miliknya yaitu Galeri Kopi Indonesia yang berada di kampung Kayu kul Kecamatan Pegasing Aceh Tengah.

Karena sudah berhasil, Salmi mencoba membeli daun tembakau basah dari petani seharga Rp4.000 per kilo. Daun tersebut diolah dalam tiga tahapan yang dilalui untuk menjadi cerutu.

Pertama proses penjemuran lalu di simpan di tempat yang teduh selama dua bulan. Kemudian diberikan ragi dari daun kering, selanjutnya baru dilinting menjadi cerutu.

Ia menyebutkan cerutu Aceh ini sudah diterima secara nasional dengan harga bervariasi mulai dari Rp15.000 sampai Rp750.000 tergantung dari ukuran cerutu. “Penikmat cerutu ini rata-rata ekonominya menengah ke atas,” sebutnya.

Rata-rata setiap hari Salmi memperoleh omset sekitar Rp2 juta, namun selama pandemi ini penjualannya turun drastis hanya mendapatkan Rp500.000 saja.

Ia mengaku selama ini Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Aceh Tengah sering mendukung aktivitas usahanya.(InfoPublik)