BUMG Alue Padee Produksi Bubuk Kopi Olahan Asli Gampong


Aceh Barat Daya – Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Putroe Padee, Gampong Alue Padee, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengembangkan kegiatan usaha memproduksi bubuk kopi olahan asli gampong.

Hal tersebut disampaikan Keuchik Gampong Alue Padee M. Rasyid kepada KitaNews, Sabtu (31/10/2020).

“Alhamdulillah, mulai kemarin sudah mulai diproduksi, dan sekaligus acara launching dibawah pengelolaan BUMG Putroe Padee, dengan kemasan produk merk dagang ALPAD,” ujar Rasyid.

Dia menjelaskan, bahan baku dari pengolahan bubuk kopi tersebut berasal dari biji kopi asli gampong berkualitas yang dibeli dari masyarakat yang berkebun tanaman kopi.

“Bahan bakunya berasal dari biji kopi gampong yang ditanami masyarakat, kemudian diolah sebaik mungkin sehingga menjadi bubuk kopi yang memiliki cita rasa berkualitas,” tuturnya.

Menurutnya, Pihak pengelola BUMG sengaja mengambil segmen bisnis dari usaha tersebut, karena dianggap lebih inovatif, usaha yang langka dan berbeda dengan usaha-usaha BUMG lainnya di Abdya.

“Dominannya BUMG di Abdya lebih banyak bergerak di bidang usaha jasa sewa perlengkapan pesta, dan sebagiannya ada depot air minum isi ulang, maka oleh karena itu pengurus BUMG Putroe Padee menggagas inovasi usaha dengan memproduksi bubuk kopi asli gampong ini,” paparnya.

Dia juga menyebutkan, sementara ini BUMG Putroe Padee mampu memproduksi bubuk kopi sebesar 12 kilogram per hari dengan bahan baku biji kopi mentah sebanyak 10 bambu.

“Biji kopi mentah yang sudah dikeringkan masyarakat dibeli oleh BUMG sebagai bahan baku,” kata Rasyid.

Dikatakannya, bubuk kopi yang sudah diproduksi sudah dipacking serapi mungkin dalam bentuk beberapa kemasan, yaitu isi kemasan 500 gram, dan 1.000 gram.

“Harganya murah dan terjangkau tergantung kebutuhan masyarakat, masing-masing kemasan dijual dipasaran mulai dari harga terendah Rp 10 ribu hingga 120 ribu per kemasan” sebutnya.

Dia mengaku, unit usaha produksi bubuk kopi BUMG Putroe Padee telah menyerap dua orang tenaga kerja ibu-ibu dari masyarakat.

Lanjut Rasyid, alasan pihaknya mengelola usaha produksi bubuk kopi tersebut dengan harapan bisa memotivasi kembali masyarakat dalam bercocok tanam budidaya tanaman kopi asli gampong.

“Selama ini kita yang taunya adalah kopi Takengon, padahal nenek moyang kita dulu justru menanam kopi lokal asli gampong yang sudah lama turun temurun diminum dan disuguhkan kepada tamu, dimana cita rasa dan kualitasnya pun juga hampir sama dengan kopi daerah lain,” ulasnya.

Sementara itu, Pendamping Desa Pemberdayaan (PDP) Kecamatan Kuala Batee Muhammad Yusuf mengatakan, meskipun di masa pandemi Covid-19 akan terus mendampingi gampong untuk memacu bergeliatnya ekonomi desa.

“Selaku pendamping Desa, kami akan terus selalu mendampingi desa dalam hal memacu bergeliatnya ekonomi desa, salah satu diantaranya melalui pengembangan BUMG, walaupun dalam masa pandemi Covid-19,” kata Yusuf.

Tahun 2020, tambah Yusuf Pemerintah Gampong Alue Padee tetap menyalurkan penyertaan modal untuk BUMG untuk mendongkrak perekonomian desa.

“Bahan bakunya asli panenan tanaman kopi Abdya dengan jenis kopi Robusta. Jikalau ada jenis kopi di masyarakat dengan jenis tersebut BUMG Alue Padee siap menampung dengan harga Rp 60 ribu per kilogram dengan kategori premium,” tutup Yusuf.(sal)