Masyarakat Gampong Lhung Tarok Ikuti Sosialisasi PHBS melalui Posyandu Desa


Aceh Barat Daya – Masyarakat Gampong Lhung Tarok, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengikuti sosialisasi prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada rangkaian kegiatan posyandu yang berlangsung di Poskesdes desa setempat, Jum’at (21/8/2020).

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh beberapa petugas kesehatan dari Puskesmas Blangpidie, Bidan Desa (Bides), sejumlah perangkat desa, kader PKK, dan pendamping lokal desa (PLD) gampong setempat.

“Kalau kegiatan posyandu ini rutin setiap bulannya selalu dilaksanakan oleh desa,” sebut Bides Lhung Tarok, Fahrini Amin, Amd.Keb kepada KitaNews, Jum’at (20/8/2020).

Ia menambahkan setiap ada kegiatan posyandu di desa selalu dihadiri oleh petugas dari puskesmas. Mereka, sebut Fahrini, merupakan petugas kesehatan yang berada dalam program KIA (Kesehatan Ibu Anak) diantaranya terdiri dari petugas KB, posyandu ANC, gizi dan balita, promkes, serta petugas imunisasi.

“Ada beberapa orang petugas kesehatan dari puskesmas yang hadir setiap ada kegiatan posyandu, mereka tergabung dalam program kesehatan ibu dan anak (KIA),” ujarnya.

Ia juga mengatakan, berhubung saat ini masih dalam situasi pandemi Covid-19, rangkaian kegiatan posyandu tetap menerapkan protokol kesehatan dengan mewajibkan ibu-ibu yang datang ke posyandu untuk memakai masker.

Selain itu, sambungnya, dalam rangkaian kegiatan posyandu juga dilakukan sosialisasi PHBS oleh petugas puskesmas kepada masyarakat, salah satunya mensimulasikan bagaimana cara mencuci tangan yang benar.

“Ibu-ibu hamil dan ibu yang membawa anaknya ke posyandu diberikan sosialisasi bagaimana prilaku hidup bersih dan sehat, seperti salah satunya cara mencuci tangan yang benar,” jelas Fahrini.

Dia berujar, masyarakat yang hadir ke posyandu itu ialah ibu-ibu dalam rangka memeriksa pertumbuhan kesehatan anaknya, dan juga sejumlah ibu hamil untuk memeriksa kondisi kesehatan, serta kehamilan kandungannya.

Mereka semua yang datang ke posyandu sangat antusias mengikuti sosialisasi PHBS oleh petugas puskesmas.

“Alhamdulillah ibu-ibu sangat antusias mendengarkan arahan dan bimbingan kesehatan PBHS yang dipandu oleh petugas puskesmas,” ujarnya

Fahrini juga menjelaskan, anak-anak balita yang hadir dibawa oleh orang tuanya ke posyandu, selain dicheck berat dan tinggi badan, juga diberikan makanan tambahan atau PMT berupa bubur, roti, susu, dan buah-buahan.

Adapun sumber dana pemberian makanan tambahan (PMT) tersebut, katanya, berasal dari dana desa yang setiap bulannya dianggarkan untuk pelaksanaan kegiatan posyandu.

“Sumber dana untuk bahan makanan tambahan, dan kebutuhan lainnya pada posyandu ini dianggarkan dari dana desa,” imbuhnya.

PLD Gampong Lhung Tarok, Salman yang juga ikut turut hadir mendampingi kegiatan tersebut, menerangkan setiap desa di Abdya mendapatkan suntikan dana desa untuk kegiatan posyandu sebesar Rp 9 juta per desa selama satu tahun.

Hal itu jelasnya, sesuai dengan Perbub Abdya tentang prioritas penggunaan dana desa tahun 2020 yang salah satunya menyatakan pelaksanaan kegiatan posyandu di desa.

“Pada lampiran perbub Abdya tahun 2020, kegiatan posyandu masuk dalam prioritas penggunaan dana desa,” kata Salman.

Dalam perbub itu, ia juga merincikan jumlah dana yang dialokasikan untuk posyandu per setiap bulannya yaitu sebesar Rp. 750 ribu. Dan, dana itu digunakan untuk pembelian PMT, serta kebutuhan lain untuk menunjang pelaksanaan kegiatan posyandu, akan tetapi angka tersebut belum termasuk pajak PPN dan PPh.

“Uang yang diterima oleh kader posyandu setelah dipotong pajak dulu, jadi jumlahnya tidak penuh lagi Rp. 750 ribu,” katanya

Salman juga menjelaskan, pemerintah pusat saat ini sedang gencar-gencarnya menekan angka stunting atau balita penderita gizi buruk. Sehingga menurutnya, posyandu merupakan kegiatan di tingkat dasar yang bisa digunakan untuk memantau kondisi kesehatan setiap anak dan kondisi kesehatan ibu hamil di desa.

“Melalui kegiatan posyandu ini pemerintah bisa melihat perkembangan kesehatan balita dan kondisi kesehatan ibu hamil itu sendiri, jika memang ada persoalan dengan kesehatan mereka itu langsung ditangani di desa,” pungkasnya.

Reporter: Salman Syarif