Cerita Yuni, Penyintas Covid-19 di Banda Aceh


PANGGILAN telepon tersambung, disambut dengan jawaban salam. Yuni Saputri salah seorang penyintas Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Banda Aceh, dengan ramah menjawab pertanyaan KitaNews.id bahwa dirinya saat ini dalam kondisi semakin membaik. Alhamdulillah.

Mengawali pembicaraan, Yuni bercerita, pada Kamis (23/7/2020) masih menjalankan tugas kedinasan ke Pidie Jaya. Ia kesana 5 orang. Karena agendanya singkat, mereka pulang pergi (PP). Bahkan, sebelum berangkat Ia memastikan bahwa seluruh staf yang ikut menggunakan masker medis.

“Mereka pakai masker kain, makanya saya suruh ganti pakai (masker) medis. Di lapangan pun kami tetap menggunakan masker, kecuali saat makan,” tutur Yuni.

Keesokan harinya Jumat (24/7/2020), selepas Ashar, Yuni ikut gowes (bersepeda) dengan beberapa temannya. Bahkan saat itu, Ia bersepeda sampai ke kawasan pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh, dan pulang hampir menjelang maghrib. Saat itu Ia belum merasakan keluhan apapun.

“Sabtu pagi, saya merasakan mulai kurang enak badan. Saat itu mikirnya, mungkin karena kelelahan saja,” ujarnya.

Menjadi kebiasaan dirinya, jika merasakan meriang Ia melakukan creambath dan badan akan kembali fit. Tapi kali ini berbeda. Kondisinya tak kunjung membaik. Ia kemudian melakukan pijat refleksi pada Minggu, keesokan harinya.

melihat kondisi Yuni yang tak kunjung membaik, Kakak Yuni sempat menanyakan kondisinya. Kemudian, Ia juga disarankan agar melakukan pengambilan sampel swab di laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) di Jl. Daud Bereu’eh.

“Masih demam? Iya, kak. Jawab saya waktu itu. Yaudah coba swab aja dulu,” kata Yuni.

Dituturkan Yuni, pengambilan swab terhadap dirinya dijadwalkan pada Selasa (28/7/2020). Ketika itu, yang dirasakannya hanya demam saja. Ia tidak mengalami batuk, flu, sakit tenggorokan dan susah bernafas, sebagaimana gejala awal Covid-19.

Pasca dilakukan swab, Rabu (29/7/2020), kondisi Yuni membaik. Ia tak lagi merasakan demam. Bersama dengan anggota keluarganya, Kamis (30/7/2020), Ia melakukan perjalanan pulang kampung ke Lhokseumawe, merayakan hari raya Idul Adha di sana.

Kondisinya sudah membaik, Yuni memutuskan untuk menyetir mobil sendiri. Ia juga tidak merasakan keluhan apapun selama perjalanan.

“Hasilnya (swab) biasa keluar tiga hari. Sebelumnya was-was juga, tapi karena tidak ada pemberitahuan apapun baik melalui telepon, saya pikir hasilnya baik-baik saja,” ujarnya.

Di hari lebaran kedua, Yuni langsung balik ke Banda Aceh. Kali ini ia juga menyetir sendirian. Bahkan, Ia sempat ikut menyiapkan dan mengikuti acara halal bi halal yang dilaksanakan dinas tempat Ia berkerja sebagai abdi negara, pada Senin (2/8/2020).

Dinyatakan Positif Covid-19 Hingga Sembuh

Sepulang halal bi halal, Yuni dikejutkan dengan petugas dari Puskemas Lampulo yang menyambangi kediaman keluarganya di Lamprit. Saat itu petugas mengatakan akan melakukan penyemprotan disinfektan di sekitar rumah.

Saat ditanya, petugas mengatakan mereka mendapatkan laporan dan intruksi melakukan penyemprotan karena ada anggota keluarga di kediaman tersebut, atas nama Yuni dinyatakan positif Covid-19. Petugas juga mengatakan instruksi penyemprotan dilakukan melalui panggilan telepon.

Mendengar kabar itu membuat Yuni shock berat. Ia sampai menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, Yuni membayangkan sudah berapa banyak orang yang sudah melakukan kontak fisik dengan dirinya, baik di Banda Aceh maupun Lhokseumawe.

Yuni menjalani isolasi mandiri, Senin (2/8/2020) malam, sebelum dirawat di RSUD Meuraxa, Banda Aceh. Selama Isolasi mandiri, Ia mengosumsi olahan herbal kunyit asam dan tamarin serta diberikan air kelapa dicampur dengan garam.

Ia dijemput petugas untuk menjalani isolasi di RSUD Meuraxa, Selasa (3/8/2020). Yuni mengatakan selama dirawat ia cukup stres, tapi dukungan dari orang terdekat mampu menyemangatinya agar sembuh dan imunintas tidak menurun.

Setiap pasien menghuni satu kamar dengan pendingin kipas angin, AC tidak boleh digunakan. Ketika Ia dirawat terdapat 14 pasien, yang terbagi dalam beberapa kluster.

Penanganan yang dilakukan pihak rumah sakit, yaitu melakukan cek suhu tubuh, tekanan darah, tekanan jantung secara rutin, pemeriksaan darah ke laboratorium, rontgen thorax dan pemberian obat, seperti vitamin C 250 mg, Curcuma, Zinc dan Vitamin B Komplex.

“Pagi sekitar jam 9.00 WIB, kami diminta untuk berjemur di bawah sinar matahari,” sebutnya.

Uji swab kedua kembali dilakukan. Yuni sempat menolak. Ia khawatir akan kembali menerima hasil positif Covid-19. Perasaan cemas menggelayuti pikiran Yuni, sembari menanti hasil dari laboratorium yang keluar pada Jumat (7/8/2020).

“Benar-benar seperti mukjizat. Saya benar bersyukur mengetahui hasil swab saya negatif. Saat ini kondisi saya semakin membaik meski harus menjalani isolasi mandiri 14 hari sejak diperbolehkan pulang dari rumah sakit,” ungkapnya parau dan menangis mengingat kejadian itu.

Kepada masyarakat, Yuni mengajak untuk senantiasa disiplin menggunakan masker ketika berpergian, selalu menjaga protokol kesehatan, selalu menjaga kebersihan diri, olahraga yang teratur dan selalu mengkomsumsi vitamin.